Landasan Teori
Anda masih ingat judul atau topik yang akan Anda teliti? Apakah masalah penelitiannya sudah dirumuskan dengan rinci (artinya ada rumusan masalah umum dan rumusan masalah khusus)? Jika sudah, coba Anda kaji ada berapa variabel yang ada dalam rumusan judul penelitian Anda tersebut dan variabel- variabel apa saja yang akan Anda kaji lebih rinci?
Jika belum, maka sebaiknya Anda rumuskan dulu judul dan masalah penelitiannya dengan lengkap sehingga akan dapat membantu Anda dalam
mempercepat pemahaman untuk mempelajari modul ini.
Setiap kali melakukan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu mengkaji teori yang relevan dengan masalah penelitian. Untuk dapat melakukan pengkajian teori sebagai landasanlandasan penelitian, peneliti terlebih dahulu harus memahami konse-konsep dasar tentang teori.
A. Pengertian Teori
Istilah teori telah banyak diungkap oleh beberapa ahli. Sukmadinata (1999: 17) menyatakan bahwa “teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal”. Teori merupakan abstraksi dari pengetahuan pengertian atau hubungan dari proporsi atau dalil. Menurut Kerlinger dalam Nazir (2005:19) menyatakan bahwa teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satudengan yang lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dan fenomena.
Menurut Sukmadinata (1999: 17) ada tiga kelompok karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori. Pertama, pernyataan dalam suatu teori
bersifat memadukan (unifying statement). Kedua, pernyataan tersebut berisi
kaidah-kaidah umum (universal preposition). Ketiga, pernyataan bersifat neramalkan (predictive statement). Rose dalam Sukmadinata (1999:18) menyatakan bahwa karakteristik pernyataan (set of statement) tersebut meliputi definisi, asumsi, dan kaidah-kaidah umum. Dalam rumusan yang lebih kompleks, teori ini juga menyangkut hukum-hukum, hipotesis, dan deduksi-deduksi yang logis-sistematis. Teori harus mampu menjangkau ke depan, bukan hanya menggambarkan apa adanya tetapi mampu meramalkan (prediktif) apa yang akan terjadi atas suatu hal.
Nazir (2005:19) menyatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas pula.
2. Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antarkonstrak (construct)
sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan.
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel
mana yang berhubungan dengan variabel mana.
B. Peran dan Fungsi Teori
Teori merupakan alat dari ilmu (tool of science). Nazir (2005: 19-20) menyatakan bahwa sebagai alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai berikut.
1. Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya.
Teori sebagai orientasi utama dari ilmu. Fungsi pertama dari teori
adalah memberi batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari. Karena banyak fenomena yang dapat dipelajari dari berbagai aspek, maka teori membatasi aspek mana saja yang akan dipelajari dari suatu fenomena tertentu. Misalnya permainan bola kaki, dapat dipelajari dari berbagai aspek, seperti dari aspek fisik, dari aspek ekonomi (penawaran dan permintaan terhadap bola kaki), dari aspek kimia, aspek sosiologi, dan sebagainya. Dengan adanya teori, maka jenis fakta mana yang relevan dengan aspek tertentu dari fenomena dapat dicari dan ditentukan.
2. Teori memberikan rencana (scheme) konseptual, dengan rencana mana fenomena-fenomena yang relevan disistematiskan, diklarifikasikan, dan dihubung-hubungkan.
Teori sebagai konseptualisasi dan klasifikasi. Tugas dari ilmu juga mengembangkan sistem klasifikasi dari struktur konsep. Dalam
pengembangan tersebut, ilmu memegang peranan penting, karena konsep serta klasifikasi selalu berubah karena pentingnya suatu fenomena berubah-ubah.
3. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan sistem generalisasi.
Teori meringkaskan fakta. Teori meringkaskan hasil penelitian. Dengan adanya teori, generalisasi terhadap hasil penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Teori juga dapat memadu generalisasi-
generalisasi satu sama lain secara empiris sehingga dapat diperoleh suatu ringkasanhubungan antargeneralisasi atau pernyataan.
4. Teori memberikan prediksi terhadap fakta.
Teori memprediksi fakta-fakta. Penyingkatan fakta-fakta oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan
adanya uniformitas tersebut, maka dapat dibuat prediksi terhadap fakta- fakta yang akan datang. Teori fakta-fakta apa yang dapat mereka
harapkan muncul berdasarkan pengamatan fenomena- fenomena sekarang.
5. Teori memperjelas celah-celah di dalam pengetahuan kita.
Teori menjelaskan celah kosong. Karena meringkaskan fakta-fakta sekarang dan memprediksikan fakta-fakta yang akan datang, yang belum
diamati, maka teori dapat memberikan petunjuk dan memperjelas daerah mana dalam khazanah ilmu pengetahuan yang belum dieksplorasi.
Misalnya, jika teori menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pendapatan dan fertilitas, maka teori tersebut menunjukkan celah mana
saja di mana hubungan tersebut berlaku secara umum, ataukah teori tersebut berlaku hanya pada kelompok pendapatan tertentu. Adanya teori kriminalitas yang dirumuskan berdasarkan pengamatan terhadap perilaku kelas bawah, telah memperjelas celah bahwa kini dipertanyakan apakah teori tersebutjuga berlaku untuk kriminalitas yang terjadi pada anak-anak golongan atas?
Dengan pendapat yang sedikit berbeda, Sukmadinata (1999: 20) menyatakan bahwa minimal ada tiga fungsi teori yang sudah disepakati oleh para ilmuwan, yaitu: (1) mendeskripsikan; (2) menjelaskan; dan (3) memprediksi.
Lebih lanjut Sukmadinata (1999: 21) menyatakan bahwa untuk usaha mendeskripsikan, menjelaskan, dan membuat prediksi, para ahli terus
mencari dan menemukan hukum-hukum tersebut. Melalui proses demikian
mungkin terjadi di dalam suatu “set kejadian”, semua hukum dan interelasinya dapat dinyatakan dan teori itu telah berkembang menjadi hukum yang lebih tinggi. Para ahli teori mencari hubungan baru dengan menggabungkan beberapa “set kejadian” menjadi suatu “set kejadian yang baru yang lebih universal”. Hal itu mendorong pencarian dan pengkajian selanjutnya, untuk menemukan hukum-hukum baru dan hubungan-hubungan barudalam suatu teori baru. Fungsi yang lebih besar dari suatu teori adalah melahirkan teori baru.
Terkait dengan fungsi teori baru, Sukmadinata (1999: 21) menguraikan tentang proses pembentukan suatu teori atau bagaimana proses berteori
berlangsung, melalui beberapa langkah sebagai berikut:
Pertama, pendefinisian istilah merupakan hal yang sangat penting dalam berteori, terutama berkenaan dengan kejelasan atau ketepatan
penggunaan istilah yang telah didefinisikan.
Kedua, klasifikasi yaitu pengelompokkan informasi-informasi yang relevan dengan kategori-kategori yang sejenis. Klasifikasi juga merupakan
pengelompokkan fakta dan generalisasi ke dalam kelompok-kelompok yang
homogen, tetapi tidak menjelaskan interelasi antarkelompok atau interreaksi antara fakta dengan generalisasi dalam suatu kelompok.
Ketiga, mengadakan induksi dan deduksi. Induksi dan deduksi
merupakan dua proses penting di dalam menembangkan pernyataan- pernyataan teoretis setelah pendefinisian dan pengklasifikasian. Induksi merupakan proses penarikan kesimpulan yang lebih bersifat umum dari fakta-fakta atau hal-hal yang bersifat khusus. Deduksi merupakan penurunan kaidah-kaidah khusus dari kaidah yang lebih umum.
Keempat, adalah informasi, prediksi, dan penelitian. Pembentukan suatu teori yang kompleks mungkin berpangkaldari inferensi-inferensi yaitu penyimpulan dari apa yang diamati. Inferensi ini mungkin ditarik melalui perumusan asumsi, hipotesis, dan generalisasi dari hasil-hasil observasi. Sesuai dengan fungsi dari teori yaitu memberikan prediksi, teori juga berkembang melalui prediksi dan juga penelitian. Interelasi antara prediksi yangdibuktikan dengan suatu penelitian, tetapi ada juga yang tetap sebagai prediksi.
Kelima, pembentukan model-model. Karena yang dicakup dengan teori sering menyangkut hal-hal yang sifatnya abstrak dan kompleks, maka untuk
memberikan gambaran yang lebih konkret dan sederhana dibuat model-
model. Model ini menggambarkan kejadian-kejadian serta interaksi antara kejadian.
Keenam, pembentukan subteori. Suatu teori yang telah mapan dan komprehensif mendorong untuk terbentuknya sub-subteori. Subteori ini
cenderung memperluas lingkup dari suatu teori dan juga memberikan penyempurnaan.
C. Kajian Teori dan Studi Kepustakaan
Pengkajian teori tidak akan terlepas dari kajian pustakan atau studi pustakan. Karena teori secara nyata dapat diperoleh melalui studi atau kajian kepustakaan. Nazir (2005: 93) menyatakan bahwa studi kepustakaan atau studi literatur, selain dari mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang, sampai ke mana terdapat kesimpulan dan generalisasi yang pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan diperoleh.
Menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun merupakan kerja kepustakaan yang sangat diperlukan dalam mengerjakan penelitian. Melalui studi atau kajian kepustakaan akan diperoleh informasi dari penelitian terdahulu.
Survei atau kajian teori dapat dikerjakan sebelum atau setelah masalah penelitian dipilih. Jika studi kepustakaan dilakukan sebelum pemilihan
masalah, penelaahan kepustakaan termasuk memperoleh ide tentang
masalah apa yang paling up to date untuk dirumuskan dalam penelitian.
Kajian teori dapat diperoleh dengan menggunakan berbagai sumber bacaan. Berikut dijelaskan beberapa jenis sumber bacaan yang dapat digunakan untuk memperoleh teori-teori yang relevan.
1. Buku Teks
Buku teks adalah tulisan ilmiah yang dijilid rapi yang diterbitkan dengan interval yang tidak tentu (Nazir, 2005: 106). Buku teks berkenaan dengan suatu bidang ilmu yang isinya menyeluruh dan biasanya digunanakan sebagai buku wajib dalam mata kuliah tertentu.
2. Jurnal
Jurnal ialah majalah ilmiah yang berisi tulisan ilmiah atau hasil-hasil seminar yang diterbitkan oleh himpunan profesi ilmiah (Nazir, 2005: 106).
Biasanya diterbitkan sekali dalam tiga bulan. Atau sekitar 3-4 jilid
setahun.
Jurnal berisi lebih dari satu artikel ilmiah dalam satu volume, yang ditulis oleh banyak pengarang-pengarang ilmuwan. Ada juga yang berisi hanya ringkasan-ringkasan artikel dari pengarang yang dinamakan review journal atau Abstract Journal.
Review journal adalah majalah ilmiah yang berisi artikel-artikel yang dipersingkat dalam suatu cabang pengetahuan. Ringkasan artikel itu bukan saja berisi ikhtisar dari hasil penemuan tetapi dimulai dari masalah dan termasuk metode penelitian. Review journal diterbitkan secara berkala.
Abstract journal adalah majalah ilmiah yang berisi singkatan atau ikhtisar dari artikel-artikel dari jurnal-jurnal terbaru. Artikel singkatan berisi
judul, metode serta kesimpulan. Artikel yang disingkatkan tidak lebih dari artikel yang baru diterbitkan oleh jurna-jurnal, antara 8-10 bulan yang lampau.
3. Periodical
Menurut Nazir (2005: 107) periodical adalah majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga-lembaga baik pemerintah atau
swasta yang berisi hasil penelitian yang dikerjakan. Banyak periodical
yang diterbitkan oleh perguruan tinggi.
4. Yearbook
Yearbook adalah buku mengenai fakta-fakta dan statistik setahun yang diterbitkan tiap tahun oleh lembaga pemerintah atau swasta, yang
diterbitkan setiap tahun. Ada kalanya tiap tahun yearbook yang
dikeluarkan membahas suatu masalah bidang ilmu (Nazir, 2005: 107).
5. Buletin
Nazir (2005: 107) menyatakan bahwa buletin adalah tulisan ilmiah pendek yang diterbitkan secara berkala yang berisi catatan-catatan ilmiah
ataupun petunjuk-petunjuk ilmiah tentang satu kegiatan operasional. Biasanya dikeluarkan oleh lembaga negara ataupun oleh himpunan
profesi lilmiah. Tiap buletin biasanya berisi satu artikel saja. Jika bulletin berisi satuartikel mengenai hasil penelitian, sering disebut contributions.
6. Circular
Circular adalah tulisan ilmiah pendek dan praktis, biasanya dikeluarkan oleh lembaga negara atau swasta seperti universitas,
lembaga penelitian, dinas-dinas dan sebagainya (Nazir, 2005: 108).
Circular diterbitkan tidak dengan interval tertentu.
7. Leaflet
Leaflet berisi karangan kecil yang sifatnya ilmiah praktis. Diterbitkan oleh lembaga negara atau swasta, dengan interval yang tidak tetap.
8. Annual Review
Annual review berisi ulasan-ulasan tentang literatur yang telah diterbitkan selama masa setahun atau beberapa tahun yang lampau.
Dalam menggunakan annual review ini, maka carilah annualreview yang
terbaru, kemudian baru mundur ke jilid-jilid sebelumnya.
9. Off Print
Adakalanya perpustakaan mendapat kiriman artikel dari pengarang yang terlepas dari majalah atau dari buku teks. Bahan demikian dinamakan off print.
10. Reprint
Jika satu dari artikel yang sudah dimuat dalam satu majalah ilmiah dan dicetak ulang oleh penerbit secara terpisah dan diberi sampul, bahan demikian dinamkan reprint.

11. Recent Advance
Nazir (2005: 109) menyatakan bahwa recent advance adalah majalah ilmiah yang berisi artikel-artikel yang tidak diperoleh dalam review journals.
12. Bibliografi
Menurut Nazir (2005: 109) bibliografi adalah buku yang berisi judul- judul artikel yang membahas bidang ilmu tertentu. Dalam buku tersebut diberikan judul, pengarang, tahun penerbitan, nama penerbitan serta halaman dari sumber mana artikel tersebut dimuat. Bibliografi ini merupakan buku referensi pada perpustakaan, dan pembaca dengan membaca buku ini memperoleh petunjuk mengenai artikel-artikel yang berguna dalam bidang ilmu tertentu, dan dalam buku atau majalah ilmiah mana artikel tersebut dapat diperoleh.
13. Handbook
Handbook adalah buku kecil yang diterbitkan oleh lembaga negara atau swasta yang biasanya berisi petunjuk-petunjuk tentang suatu
masalah tertentu, ataupun tentang sutau fenomena yang bersifat umum.
Handbook ini bisa saja mempunyai pengarang, ataupun tanpa pengarang, tetapi dikumpulkan oleh suatu instansi tertentu (Nazir, 2005:
110).
14. Manual
Manual adalah buku petunjuk tentang mengerjakan atau melakukan sesutau secara terperinci. Biasanya mengenai suatu masalah praktis,
baik dalam mengukur, melakukan kegiatan atau memakai sesuatu secara
benar (Nazir, 2005: 110).
Comments
Post a Comment